Minggu, 8 Mar 2026
light_mode
Beranda » Headline » Banjir di Sumatra Seret Ratusan Kubik Kayu, KDM: Tak Mungkin Kayu Bunuh Diri Massal

Banjir di Sumatra Seret Ratusan Kubik Kayu, KDM: Tak Mungkin Kayu Bunuh Diri Massal

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Ming, 30 Nov 2025

Jabarin.id – Bencana banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa hari terakhir. Arus air yang deras tidak hanya menenggelamkan permukiman dan memutus akses jalan, tetapi juga menyeret ratusan kubik kayu gelondongan dari kawasan hulu.

Pemandangan tumpukan balok-balok besar itu memperkuat dugaan publik bahwa kerusakan hutan dan pembukaan lahan berperan besar dalam memperparah bencana.

Di tengah kekacauan itu, pernyataan Kang Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan. Melalui video yang ia unggah pada Minggu (30/11), Dedi menanggapi situasi di Sumatra dengan menekankan bahwa bencana tidak terjadi tiba-tiba, apalagi semata-mata karena faktor cuaca. Ia menegaskan bahwa kerusakan hutan hampir selalu berkaitan dengan tindakan manusia.

“Setahu saya tidak pernah ada hutan di rimba raya yang bergelimpangan karena bunuh diri massal. Hampir rata-rata rusaknya hutan, bergelimpangannya pohon karena penebangan yang direncanakan,” kata Dedi.

Ia menyebut peristiwa banjir yang membawa kayu gelondongan sebagai bukti fisik yang sulit dibantah. Menurutnya, kondisi itu memperlihatkan bagaimana pembukaan kawasan hutan tanpa perencanaan ekologis menyebabkan tanah kehilangan daya serap, membuat air turun dengan kecepatan ekstrem sambil membawa material besar dari wilayah hulu.

“Untuk itu mari kita introspeksi diri agar peristiwa itu tidak terjadi lagi, bukan membuat narasi untuk pembenaran diri,” ujarnya.

Unggahan KDM itu segera menyebar luas di media sosial. Banyak warganet yang menilai pandangannya tepat menggambarkan akar persoalan bencana ekologis yang berulang, terutama ketika kayu-kayu besar kembali muncul dalam setiap banjir besar di Sumatra.

Sementara itu, proses evakuasi dan penanganan darurat terus berlangsung. Pemerintah daerah masih mendata kerusakan dan korban terdampak, di tengah terputusnya sejumlah jalur akibat longsor dan hanyutan material kayu. Para relawan dan tim SAR melaporkan bahwa akses menuju beberapa desa terhambat oleh tumpukan gelondongan yang menutup badan sungai maupun menghalangi jembatan.

expand_less