Minggu, 8 Mar 2026
light_mode
Beranda » Lingkungan » Dari Ruang Kerja, Pegawai DCKTR Tangsel Mulai Pilah Sampah Sendiri

Dari Ruang Kerja, Pegawai DCKTR Tangsel Mulai Pilah Sampah Sendiri

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Jum, 9 Jan 2026

Jabarin – Pengelolaan sampah di lingkungan perkantoran Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai bergeser. Di kawasan perkantoran Lengkong Wetan, pegawai Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) kini terbiasa memilah sisa makanan sejak dari ruang kerja.

Kebiasaan ini muncul seiring diterapkannya program Biopori Kantor yang mulai berjalan sejak Oktober 2025. Program tersebut dijadikan proyek percontohan untuk mengurangi sampah organik langsung dari sumbernya, sebelum berakhir di tempat pembuangan.

Di setiap ruangan, tersedia ember tertutup khusus sampah organik. Sisa makanan dari pegawai dikumpulkan secara terpisah, lalu diangkut petugas kebersihan setiap sore. Sampah tersebut tidak dibuang keluar kawasan, melainkan dimasukkan ke lubang biopori yang dibuat di sekitar area kantor.

Petugas UPT Pemeliharaan DCKTR Tangsel, Jeni Faturahman, menjelaskan biopori yang digunakan berbeda dari biopori resapan air pada umumnya. Lubang dibuat lebih besar dan dalam karena difungsikan sebagai tempat pengolahan sampah organik.

“Biopori ini khusus untuk sisa makanan. Nantinya sampah akan diurai secara alami hingga menjadi kompos,” ujar Jeni dalam keterangannya, dikutip Jumat (9/1).

Lubang biopori dibuat dengan diameter sekitar 12 inci dan kedalaman 80 hingga 100 sentimeter. Di bagian atas dipasang pipa setinggi sekitar 20 sentimeter agar mudah dirawat. Di dalamnya, sampah diuraikan oleh mikroorganisme, belatung, dan cacing, sekaligus membuat tanah di sekitarnya lebih gembur.

Kompos hasil penguraian dimanfaatkan kembali untuk tanaman di lingkungan kantor. Sementara sampah non-organik tetap dikelola melalui bank sampah yang dikelola Dharma Wanita Persatuan DCKTR.

Program ini tidak hanya dijalankan oleh DCKTR. Sejumlah dinas lain di kawasan Lengkong Wetan ikut terlibat, mulai dari Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi, Perkimta, hingga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Jeni, tantangan utama program ini bukan pada teknis biopori, melainkan perubahan kebiasaan pegawai.

“Kalau tidak dipilah dari awal, biopori tidak akan jalan. Ini soal membiasakan diri,” katanya.

Ke depan, konsep biopori kantor ini akan dievaluasi sebelum diperluas ke kawasan perkantoran lain dan gedung layanan publik di Tangerang Selatan. Perawatan rutin juga dilakukan minimal sepekan sekali untuk memastikan proses penguraian berjalan optimal.

expand_less