Minggu, 8 Mar 2026
light_mode
Beranda » Lingkungan » Selain Genteng, Ini Pilihan Atap Rumah Ramah Lingkungan di Jabar

Selain Genteng, Ini Pilihan Atap Rumah Ramah Lingkungan di Jabar

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Sel, 3 Feb 2026

Jabarin – Wacana “gentengisasi” yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 kembali menghidupkan perbincangan soal material atap rumah di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Prabowo secara tegas mendorong penggunaan genteng dan menolak atap seng yang dinilai panas, mudah berkarat, serta merusak estetika lingkungan.

Dalam forum yang sama, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan kesiapan menindaklanjuti arahan tersebut. Ia menekankan bahwa penataan keindahan lingkungan, termasuk bentuk atap bangunan, sudah lama menjadi perhatiannya.

Yang terakhir adalah, ini yang menjadi concern saya selama ini saya jalankan adalah atap bangunan harus indah, ada yang menggunakan genteng, ada ijuk, ada sirap, semuanya harus indah, tidak boleh menggunakan bahan seng, kata Dedi di sela Rakornas.

Pernyataan ini menegaskan bahwa meskipun genteng menjadi prioritas, Dedi Mulyadi tetap membuka ruang bagi material lain yang lebih ramah lingkungan, estetis, dan sesuai dengan karakter lokal Jawa Barat.

Berikut beberapa pilihan atap rumah selain genteng yang relevan dan banyak digunakan di Jawa Barat.

Material Atap Rumah Ramah Lingkungan Jabar

  1. Ijuk

Ijuk, serat alami dari pohon aren, telah lama menjadi material atap rumah adat, saung, hingga bangunan wisata di kawasan pegunungan dan pedesaan Jabar.

Atap ijuk dikenal mampu meredam panas dengan baik sehingga rumah tetap sejuk meski cuaca terik. Material ini juga relatif tahan terhadap hujan dan bisa bertahan bertahun-tahun jika dipasang dan dirawat dengan benar.

Dari sisi lingkungan, ijuk bersifat biodegradable dan tidak menghasilkan limbah berbahaya. Namun, pemasangannya membutuhkan keahlian khusus, dan biaya perawatan cenderung lebih tinggi dibanding genteng.

2. Sirap

Sirap merupakan atap berbahan kayu tipis yang biasanya dibuat dari kayu keras seperti ulin. Di Jawa Barat, sirap kerap ditemukan pada bangunan bergaya tradisional, vila, serta resort di kawasan wisata seperti Lembang, Puncak, dan Pangandaran.

Selain memberikan kesan alami dan estetis, sirap juga cukup baik dalam menahan panas serta memiliki kemampuan mengatur kelembapan.

Kekurangannya, sirap memerlukan perawatan rutin agar tidak lapuk, berjamur, atau dimakan rayap. Ketersediaan bahan kayu berkualitas juga menjadi tantangan jika tidak dikelola secara berkelanjutan.

3. Alang-alang

Atap alang-alang atau rumbia masih bisa ditemui di sejumlah wilayah pedesaan Jawa Barat, terutama pada saung, rumah kebun, atau tempat wisata berbasis alam.

Material ini sangat ramah lingkungan karena berasal dari tumbuhan alami dan mudah terurai. Alang-alang juga efektif menjaga suhu ruangan tetap sejuk.

Namun, daya tahannya relatif lebih pendek dibanding ijuk atau sirap sehingga perlu penggantian berkala. Selain itu, bahan ini lebih rentan terhadap api jika tidak diolah dengan baik.

4. Bambu

Bambu semakin populer sebagai material bangunan ramah lingkungan, termasuk untuk atap. Di beberapa desa wisata di Jawa Barat, bambu digunakan sebagai rangka atap atau dikombinasikan dengan ijuk dan sirap.

Bambu ringan, kuat, dan mudah diperoleh di banyak wilayah Jabar. Jika diolah dengan benar, bambu bisa bertahan lama dan memberikan karakter arsitektur yang khas.

Tantangannya terletak pada ketahanan terhadap cuaca ekstrem dan serangan serangga, sehingga diperlukan teknik pengawetan yang tepat.

5. Genteng tanah liat modern

Meskipun bukan alternatif sepenuhnya, genteng tanah liat tetap menjadi pilihan utama yang sejalan dengan arahan Prabowo. Berbahan alami, genteng tanah liat memiliki sirkulasi udara yang baik dan tidak menyerap panas berlebih seperti seng.

Sejumlah produsen di Jawa Barat juga mulai mengembangkan genteng yang lebih ringan dan kuat, bahkan ada yang memanfaatkan campuran material limbah tertentu untuk meningkatkan kualitas dan daya tahan.

Arahan Prabowo soal gentengisasi tidak menutup ruang bagi material lain yang lebih ramah lingkungan dan estetis. Respons Dedi Mulyadi justru menunjukkan pendekatan yang lebih fleksibel: mengutamakan keindahan, kenyamanan, dan keberlanjutan, bukan sekadar mengganti seng dengan genteng.

Dengan karakter alam dan budaya Jawa Barat yang beragam, pilihan atap seperti ijuk, sirap, alang-alang, bambu, hingga genteng tanah liat modern dapat menjadi bagian dari wajah arsitektur yang lebih hijau, sejuk, dan selaras dengan lingkungan.

expand_less