Dedi Mulyadi Sebut Kawasan Industri Bekasi, hingga Rebana Bisa Bangkrut Kalau Gunung Rusak
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Jum, 13 Feb 2026

Jabarin – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengingatkan keberlangsungan kawasan industri di Bekasi, Karawang, hingga Rebana sangat bergantung pada kelestarian kawasan pegunungan sebagai sumber air. Ia menegaskan industri bisa lumpuh bahkan bangkrut jika kerusakan gunung menyebabkan sumber air mengering.
“Industri di Rebana akan mati, industri di Subang akan mati, industri di Karawang akan mati, industri di Cirebon akan mati, industri di Bekasi akan mati, kalau sumber airnya kering, yang berasal dari puncak-puncak gunung sebagai sumber air,” kata Dedi saat sambutan pada Hari Jadi Majalengka, Rabu (11/2/2026).
Menurut Dedi, arah pembangunan Jawa Barat ke depan tidak bisa hanya bertumpu pada pertumbuhan industri di wilayah hilir. Kawasan hulu seperti pegunungan dan daerah resapan air harus menjadi prioritas karena menjadi fondasi ekosistem dan ekonomi daerah.
Ia menilai selama ini banyak program reboisasi tidak berdampak karena hanya bersifat seremonial. Karena itu, Pemprov Jabar kini menerapkan pendekatan baru dengan melibatkan masyarakat dalam pelestarian hutan melalui skema ekonomi.
Program tersebut mulai dijalankan di Kuningan, kawasan Gunung Ciremai, hingga Gunung Gede. Warga yang menanam dan merawat pohon digaji selama empat tahun, dengan tanggung jawab mengelola dua hektare lahan dan menerima upah antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta per bulan.
Dedi menegaskan skema ini bukan sekadar penghijauan, tetapi juga strategi mengentaskan kemiskinan di wilayah pedesaan sekaligus mencegah kesenjangan sosial.
Ia juga mendorong adanya perhitungan debit air dan kapasitas kawasan penghasil oksigen sebagai dasar keadilan fiskal, agar daerah hulu yang menjaga sumber daya alam mendapat perhatian dalam kebijakan pembangunan.
Dalam kesempatan itu, Dedi mendorong daerah seperti Majalengka mengembangkan desa berbasis lingkungan dan budaya, terutama di kawasan pegunungan dan daerah aliran sungai, sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di Jawa Barat.







