Sabtu, 7 Mar 2026
light_mode
Beranda » Budaya » Filsafat Sunda ‘Réa Ketan, Réa Keton’ dan Relevansinya bagi Ketahanan Pangan Jawa Barat

Filsafat Sunda ‘Réa Ketan, Réa Keton’ dan Relevansinya bagi Ketahanan Pangan Jawa Barat

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Sel, 11 Nov 2025

Jabarin.id – Jawa Barat dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Namun, tantangan baru terus muncul, dari alih fungsi lahan hingga perubahan iklim yang memengaruhi produksi beras dan bahan pangan lain. Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai lama Sunda kembali terasa relevan, salah satunya melalui filosofi Réa Ketan, Réa Keton.

Ungkapan itu secara sederhana berarti “banyak ketan, banyak uang.” Maknanya lebih dari sekadar soal hasil panen: masyarakat yang menjaga pangan akan hidup sejahtera. Ketan melambangkan kecukupan bahan makanan, sedangkan keton berasal dari kata dukaten, mata uang lama. Filsafat ini menegaskan bahwa kesejahteraan berawal dari kemampuan menjaga sumber pangan sendiri.

Dalam pandangan Sunda, ketahanan pangan tidak hanya urusan stok beras, tetapi juga cara hidup. Masyarakat diajarkan untuk menanam di lahan sendiri, menyimpan hasil panen di leuit (lumbung padi), serta memanfaatkan halaman rumah untuk tanaman sayur dan obat. Semua ini menjadi bagian dari sistem lokal yang berorientasi pada kemandirian.

Nilai itu pula yang kerap dihidupkan kembali oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia menafsirkan Réa Ketan, Réa Keton sebagai pengingat bahwa kemandirian pangan harus dimulai dari desa dan rumah tangga. Ketika pangan tersedia di tingkat lokal, kesejahteraan pun ikut tumbuh.

Filsafat lama ini pada dasarnya mengajarkan keseimbangan antara kerja, alam, dan keberlanjutan. Bahwa pangan bukan hanya komoditas, tapi sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Dalam konteks kekinian, semangat Réa Ketan, Réa Keton bisa menjadi dasar bagi gerakan ketahanan pangan yang berakar pada budaya dan gotong royong masyarakat Jawa Barat.

expand_less