Jejak KDM dan Perlawanan Antroposentrisme di Jawa Barat
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Sen, 1 Des 2025

Opini: Juson Josri Simbolon
Tiga dekade terakhir, isu etika lingkungan menjadi perhatian utama di kalangan akademisi dan aktivis. Fokus utamanya terletak pada relasi moral antara manusia dan lingkungan hidup, serta pentingnya nilai-nilai etis dalam mengelola dan menjaga keseimbangan alam demi kelangsungan hidup seluruh makhluk, bukan hanya manusia.
Salah satu sudut pandang dalam etika lingkungan yang sering diperdebatkan adalah antroposentrisme. Pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala nilai. Lingkungan hanya dipandang sejauh memberikan manfaat bagi kebutuhan manusia, terutama dari segi ekonomi. Pandangan ini cenderung mereduksi nilai lingkungan menjadi komoditas yang harus dieksploitasi, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan ekosistem.
Dominasi pandangan antroposentris inilah yang secara nyata telah mendorong kerusakan lingkungan akibat aktivitas industri ekstraktif yang tak terkendali. Implikasinya tidak hanya bencana alam dan degradasi ekologis, tetapi juga kerugian moral dan material yang meluas pada tatanan sosial-ekologis.
Dalam konteks pandangan antroposentris, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menampilkan sikap konsisten dan tegas terhadap isu lingkungan. Ia dikenal vokal menentang perubahan tata ruang tanpa pertimbangan etika lingkungan, alih fungsi lahan, serta kegiatan pertambangan yang berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan di Jawa Barat.
Kepedulian KDM tidak hanya lewat pendekatan struktural, namun juga menyentuh akar budaya melalui pendekatan gerakan kultural yang melekat dalam berbagai pidatonya di ruang publik. Melalui narasi-narasi pencerahan, KDM menawarkan alternatif sebagai antitesa terhadap antroposentrisme dengan mendasarkan argumen pada pendekatan filosofis dan nilai-nilai historis budaya Sunda. Dalam pandangan tersebut, alam diposisikan sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, yang layak dihormati dan dilestarikan, bukan sekadar dimanfaatkan.
Nilai-nilai ini tidak hanya ada dalam ruang hampa, tetapi juga meresap dalam jiwa para aktivis gerakan sosial dan pengikut KDM yang tumbuh di sekitarnya. Pengikut dan simpatisannya turut menginternalisasi pandangan ini dalam berbagai kegiatan kolektif, mendorong partisipasi publik untuk bersama-sama menjaga lingkungan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan di Jawa Barat.
Sebagai informasi. Jelang debat publik ketiga calon Gubernur Jawa Barat, isu lingkungan menjadi sorotan utama banyak kalangan, khususnya para aktivis. Harapan besar muncul agar calon terpilih berani memberikan ruang strategis bagi kebijakan lingkungan yang berkeadilan. Salah satu bentuk dorongan tersebut dilakukan oleh Paguyuban Sunda Muda (PSM)—salah satu pendukung KDM—yang menginisiasi diskusi publik bertajuk “Siapa Bernyali Moratorium Tambang Jawa Barat?”
Diskusi ini bertujuan mengarahkan debat publik agar tidak hanya berkutat pada retorika, namun menyentuh rencana teknokratis konkret dalam merancang kebijakan lingkungan di Jawa Barat.
Setelah KDM resmi menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, semangat perlawanan terhadap antroposentrisme terus menginspirasi dan mengalir dalam gerakan para aktivis pendukung KDM.







