Minggu, 8 Mar 2026
light_mode
Beranda » Headline » KDM Salurkan Bantuan ke Sumatera, Subang dan Bandung Dilanda Banjir Besar

KDM Salurkan Bantuan ke Sumatera, Subang dan Bandung Dilanda Banjir Besar

  • account_circle Firmansyah
  • calendar_month Jum, 5 Des 2025

Jabarin.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertolak ke Sumatera pada 4 Desember 2025 untuk menyalurkan bantuan Pemprov Jabar senilai Rp7 miliar bagi korban banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bantuan itu diberikan sebagai respons atas bencana besar yang melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera dalam sepekan terakhir.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, dua wilayah di Jawa Barat dilanda bencana. Kabupaten Subang, daerah asal Dedi, terendam banjir yang menyebabkan rumah warga rusak dan memaksa sejumlah warga mengungsi ke GOR setempat. Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah itu sejak awal Desember.

Tidak hanya Subang. Kabupaten Bandung juga diterjang banjir. CNN Indonesia melaporkan ratusan rumah terdampak setelah hujan intens mengguyur wilayah tersebut pada 3–4 Desember. Sejumlah titik di Kabupaten Bandung sempat terisolasi karena akses jalan tergenang.

Merespons kondisi itu, Dedi Mulyadi mengunggah video di media sosialnya dan menjelaskan penyebab banjir yang kerap melanda wilayah Bandung. Ia menyebut kerusakan kawasan hulu dan alih fungsi lahan sebagai faktor utama tingginya risiko banjir.

“Banjir di Kabupaten Bandung itu banjir langganan. Yang pertama, tata ruangnya harus dikembalikan,” kata Dedi dalam unggahan tersebut, Jumat (5/12/2025).

Dedi menegaskan alih fungsi perkebunan teh dan area hutan menjadi kebun sayuran menyebabkan air langsung mengalir deras ke wilayah hilir. Ia meminta agar praktik alih fungsi lahan dihentikan dan kawasan yang telah berubah dikembalikan ke fungsi semula.

“Yang kedua adalah menghentikan alih fungsi lahan. Yang ketiga membangun bendungan di Kertasari, dan ini akan kami lakukan,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah daerah tidak lagi menerbitkan izin yang mengubah kawasan resapan menjadi perumahan atau area bisnis. Menurutnya, penanganan banjir tidak cukup hanya dengan keluhan, tetapi harus dimulai dari pembenahan hulu.

“Termasuk tidak lagi menguruk daerah aliran sungai dan rawa-rawa. Pemkot dan Pemkab Bandung harus bersinergi mengembalikan tata ruang ke fungsi alam,” kata dia..

expand_less