Merawat “Resep Kasih Sayang” H. Darsono: Sebuah Oase Pendidikan
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Jum, 13 Feb 2026

Oleh: Dr. Alfa Dera, S.H, M.H, M.M., (Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pamulang)
Di tengah belantara pendidikan tinggi nasional yang kerap terjebak dalam menara gading elitisme, Universitas Pamulang (Unpam) hadir laksana sebuah oase. Ia bukan sekadar institusi tempat mentransfer ilmu, melainkan sebuah manifestasi nyata dari cinta kasih dan keberpihakan sosial. Di balik gedung-gedung megah yang menjulang di Viktor maupun Witana Harja, terdapat satu ruh yang tak boleh mati: spirit pengabdian Almarhum Dr. (HC) H. Darsono.
Beliau, sang visioner yang kita cintai, tidak mewariskan sekadar aset fisik berupa dinding beton atau lahan luas. Warisan teragung beliau adalah sebuah “resep kasih sayang” dalam pengelolaan pendidikan. Sebuah filosofi ekonomi-pendidikan yang menjungkirbalikkan logika kapitalisme: subsidi silang.
Secara akademis, kita bisa membedah model manajemen Yayasan Sasmita Jaya sebagai sebuah anomali positif. Di saat mayoritas perguruan tinggi menjadikan mahasiswa sebagai “sumber pendapatan utama” (revenue stream), Almarhum H. Darsono justru mengajarkan bahwa universitas harus hidup dari kreativitas usaha, bukan dari memeras keringat mahasiswa.
Unit-unit usaha yang dibangun Yayasan—mulai dari industri air minum, manufaktur, hingga sektor riil lainnya—adalah tulang punggung yang menopang biaya operasional kampus. Keuntungan usaha disuntikkan kembali untuk menghadirkan fasilitas lift, eskalator, dan ruang kelas berpendingin udara yang setara dengan kampus mahal, namun dengan biaya yang sangat terjangkau bagi kaum papa. Ini adalah bentuk social entrepreneurship (kewirausahaan sosial) tingkat tinggi yang dijalankan dengan hati.
Hari ini, estafet kepemimpinan berada di pundak para penerus di Yayasan dan Rektorat. Sebagai anak-anak ideologis Almarhum, kita-para alumni-memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga kemurnian “resep” ini.
Kekhawatiran terbesar dalam dunia pendidikan modern adalah terjebak dalam arus komersialisasi terselubung atas nama “peningkatan mutu”. Fenomena menjamurnya kewajiban seminar berbayar, uji kompetensi berbiaya tinggi, hingga sertifikasi yang membebani mahasiswa secara finansial, adalah gelombang yang harus kita waspadai. Jika logika transaksional semacam ini sampai merembes masuk dan menjadi budaya di Unpam, maka sesungguhnya kita sedang mengkhianati air mata dan keringat perjuangan Ayahanda Darsono.
Peningkatan kualitas akademik dan kompetensi mahasiswa adalah sebuah conditio sine qua non (syarat mutlak), namun jalan menuju ke sana tidak boleh ditempuh dengan cara yang mencederai filosofi kerakyatan kampus ini.
Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, parameter kompetensi tidak lagi diukur dari selembar kertas sertifikat seminar berbayar, melainkan dari jejak digital, karya nyata, dan skill yang aplikatif. Kita memiliki peluang emas untuk melakukan efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Pertama, optimalisasi teknologi. Seminar dan pelatihan kompetensi dapat dilakukan melalui webinar atau ruang Zoom yang menihilkan biaya sewa gedung dan logistik fisik. Pendidikan berkualitas bisa diakses dari rumah, gratis, dan inklusif.
Kedua, pemberdayaan alumni. Sebagai Ketua Ikatan Alumni, saya melihat ribuan lulusan Unpam kini telah menjadi “orang” di berbagai sektor—jaksa, hakim, pengusaha, hingga eksekutif perusahaan. Kami siap mewakafkan ilmu dan waktu kami. Alumni siap menjadi mentor, pelatih, dan narasumber bagi adik-adik mahasiswa tanpa memungut bayaran. Inilah kekuatan jejaring persaudaraan kita.
Biarlah mahasiswa Unpam dikenal karena ketangguhan mental, karya tulis, jurnal ilmiah, dan konten digital positif yang mereka hasilkan, bukan karena besarnya biaya yang mereka keluarkan untuk administrasi tambahan.
Mari kita bantu Yayasan dan Rektorat untuk tetap istiqomah di jalan sunyi ini. Unpam tidak perlu meniru kampus lain yang menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis. Justru, kampus lainlah yang harus belajar dari ketulusan Unpam.
Mempertahankan biaya murah, menghapus pungutan yang tidak perlu, dan mempermudah jalan para penuntut ilmu adalah cara paling indah untuk memuliakan Almarhum H. Darsono. Setiap rupiah yang kita hematkan untuk mahasiswa adalah doa yang akan terus mengalir, menerangi kubur beliau, dan menjadi amal jariyah bagi kita semua yang melanjutkannya.
Semoga Unpam tetap menjadi rumah yang ramah bagi mimpi-mimpi anak negeri. Karena sejatinya, pendidikan tertinggi adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.







