Pameran “Riksa Wisesa” Tandai Peran Baru Batutulis sebagai Ruang Pewarisan
- account_circle Firmansyah
- calendar_month Sab, 7 Feb 2026

Jabarin – Pameran keris dan kujang bertajuk “Riksa Wisesa, Jejak Pajajaran: Kuasa, Pusaka, dan Ajaran Sunda” yang dibuka di Bumi Ageung Batutulis, Kota Bogor, Rabu (5/2/2026), tidak hanya dimaknai sebagai agenda pamer budaya semata. Lebih jauh, kegiatan ini menandai upaya menjadikan Batutulis sebagai ruang pewarisan nilai-nilai Sunda bagi generasi muda, bukan sekadar museum yang memajang benda bersejarah.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mendampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam pembukaan pameran yang menampilkan 60 koleksi pusaka, sekaligus menghadirkan bursa kujang dan keris hingga 9 Februari 2026. Namun, di balik etalase artefak, ada visi menghidupkan kembali Museum Pajajaran sebagai ruang belajar budaya yang hidup, interaktif, dan relevan dengan zaman.
Fadli menegaskan bahwa kawasan Prasasti Batutulis yang terintegrasi dengan Museum Pajajaran akan dikembangkan menjadi kantong budaya, lengkap dengan pembangunan ampiteater sebagai ruang terbuka untuk pertunjukan dan dialog kebudayaan.
“Kita akan bantu penataan museum agar lebih besar lagi. Artefaknya akan kita isi secara bertahap. Saya juga akan menyumbang, seniman dan budayawan bisa ikut menyumbang, dan semuanya akan dikurasi dengan baik,” ujar Fadli.
Ia menilai Tanah Sunda memiliki kekayaan sejarah yang belum sepenuhnya terwadahi dalam satu ruang edukasi yang utuh. Karena itu, Batutulis diarahkan tidak hanya menjadi tempat menyimpan pusaka, tetapi juga ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini melalui ekspresi budaya seperti wayang, angklung, dan seni Sunda lainnya.
Dedie melihat langkah ini sebagai penguatan memori kolektif masyarakat Sunda. Menurutnya, Batutulis bukan sekadar situs bersejarah, tetapi simbol berkembangnya peradaban Sunda yang maju di berbagai bidang.
“Di sinilah berkembang sebuah pusat kebudayaan dan kesenian masyarakat Sunda yang tidak hanya kuat di pertanian, tetapi juga dalam cara berpikir, seni, dan tata kehidupan,” kata Dedie.
Dengan penguatan Museum Pajajaran, Batutulis diharapkan menjadi ruang pewarisan yang aktif: tempat anak muda tidak hanya melihat benda sejarah, tetapi memahami makna, nilai, dan ajaran di baliknya.







