Dedi Mulyadi Warning Premanisme di Proyek PSEL Legok Nangka, Minta Aparat Kawal 24 Jam
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
- print Cetak

Jabarin, Kabupaten Bandung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta aparat keamanan mengawal proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka. Ia mengingatkan agar proyek bernilai triliunan rupiah itu tidak terganggu oleh praktik pungutan liar atau pihak-pihak yang mencoba meminta “jatah” dari aktivitas proyek.
Pernyataan itu disampaikan Dedi saat memberikan sambutan dalam kegiatan groundbreaking PSEL Legok Nangka, Rabu (29/7/2026). Ia meminta Kapolda Jawa Barat dan Pangdam III/Siliwangi memastikan kawasan proyek tetap aman.
“Biasanya ada proyek, besok ada orang yang pakai seragam di sini, pakai kaos, bawa bendera. Nanti setiap mobil lewat, gocap. Nanti datang lagi kelompok ini mengajukan proposal untuk Agustusan, tidak diberi, marah,” ujar Dedi dalam sambutannya.
Dedi menegaskan, pola seperti itu tidak boleh terjadi di proyek PSEL Legok Nangka. Menurutnya, tidak boleh ada pihak yang mengatasnamakan kelompok tertentu untuk meminta jatah dari aktivitas proyek, termasuk terkait pengiriman material.
“Saya katakan tidak boleh di proyek Legok Nangka ini. Saya akan minta Pak Kapolda dan Pak Pangdam jaga 24 jam. Enggak boleh datang siapapun ke sini untuk meminta jatah pengiriman pasir, pengiriman batu dan sejenisnya,” katanya.
Dedi bahkan menyatakan perang terhadap praktik premanisme yang menurutnya dapat membentuk budaya mencari keuntungan tanpa bekerja.
“Saya menyatakan perang terhadap premanisme. Kenapa? Premanisme kita membiarkan orang mendapatkan uang tanpa bekerja,” ucapnya.
Menurut Dedi, masyarakat harus didorong untuk mendapatkan penghasilan melalui kerja dan usaha yang benar, bukan dengan tekanan atau intimidasi.
“Orang ingin dapat uang maka harus berkeringat dan bekerja. Ini cara merubah mindset orang Jawa menjadi maju,” kata Dedi.
Proyek PSEL Legok Nangka sendiri merupakan proyek strategis nasional dengan nilai investasi sekitar Rp7,2 triliun. Proyek ini ditargetkan mengolah hampir 2.000 ton sampah per hari dari kawasan Bandung Raya dan menghasilkan listrik sekitar 40 megawatt.
- Penulis: Tim Redaksi
