Dedi Mulyadi Minta Pendakian Gunung di Cianjur dan Bogor Ditunda
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- print Cetak

JABARIN.ID, BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta pemerintah kabupaten/kota menunda sementara aktivitas pendakian gunung di wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Cianjur dan Bogor.
Permintaan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kemarau dan ancaman El Nino.
“Bupati Cianjur dan Bupati Bogor, serta daerah-daerah yang gunungnya digunakan untuk dilakukan apa namanya, kegiatan panjat gunung, sebaiknya ditunda dulu sementara,” ujar Dedi kepada awak media di Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Dedi, potensi kebakaran di kawasan pegunungan tidak hanya dipengaruhi kondisi cuaca yang panas dan kering, tetapi juga faktor aktivitas manusia.
Ia menyoroti kebiasaan sebagian pendaki yang membawa dan merokok selama berada di kawasan gunung. Puntung rokok yang dibuang sembarangan dinilai dapat memicu kebakaran di tengah kondisi vegetasi yang kering.
“Karena banyak orang yang manjat gunung itu bawa rokok dan bakar. Nah, sementara lah. Karena bikin bakar aja enggak terkendali jadi kebakaran. Sementara ini menurut saya tunda dulu, karena tidak semua orang disiplin,” katanya.
Selain aktivitas pendakian, Dedi meminta pemerintah kabupaten dan kota memperketat pengawasan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.
Ia meminta agar akses membawa sumber api, termasuk korek api dan rokok, ke kawasan TPA turut diperketat sebagai langkah pencegahan kebakaran.
“Kalau TPA kan bupati-bupatinya harus segera tanggap di lingkungan TPA-nya masing-masing. Kalau menurut saya sih, hindarkan orang bawa korek api dan rokok ke tempat TPA,” tegasnya.
Karhutla Capai 196 Hektare
Kekhawatiran tersebut muncul seiring meningkatnya kejadian karhutla di Jawa Barat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 24 Agustus 2026, tercatat 132 kejadian karhutla yang tersebar di 91 kecamatan dan 153 desa/kelurahan.
Total area yang terbakar mencapai 196,40 hektare.
Kepala BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun mengatakan karhutla di Jawa Barat telah terjadi sejak 25 Februari 2026, dengan peningkatan frekuensi yang signifikan mulai Juni.
“Hal yang perlu menjadi perhatian bukan hanya luas lahan yang terbakar, melainkan juga sebarannya yang sudah cukup masif di Jawa Barat. Puncak potensi karhutla diprediksi BMKG masih akan berlangsung hingga September 2026,” ujar Teten.
Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan frekuensi kejadian terbanyak, yakni 20 kali kebakaran dengan area terdampak 21,68 hektare. Selanjutnya Kabupaten Majalengka dengan 15 kejadian dan luas area terbakar 25,91 hektare, serta Kabupaten Bandung dengan 13 kejadian dan 16,80 hektare.
Sementara itu, Kabupaten Sukabumi mencatat luas area terbakar terbesar meski jumlah kejadiannya 12 kali. Total lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 49,20 hektare.
Daerah lain yang juga menjadi perhatian dalam pengawasan karhutla antara lain Subang, Kuningan, dan Purwakarta, yang masing-masing mencatat sekitar 10 hingga 11 kejadian.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah diminta meningkatkan langkah pencegahan, terutama di kawasan yang memiliki potensi kebakaran tinggi selama periode kemarau.
- Penulis: Tim Redaksi
