218 Ribu Warga Jabar Keluar dari Kemiskinan, Ekonomi Tumbuh Lampaui Nasional
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- print Cetak

Jabarin, Bandung – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 tumbuh 5,73 persen secara tahunan (year on year/y-o-y). Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi berasal dari lapangan usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib yang tumbuh 18,28 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 40,24 persen.
“Secara year on year, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,73 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Margaretha saat Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat di Kantor BPS Jawa Barat, Rabu (5/8/2026).
BPS mencatat sumber pertumbuhan ekonomi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan dengan kontribusi 1,96 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, andil terbesar diberikan oleh konsumsi rumah tangga sebesar 3,03 persen.
Secara kuartalan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 juga tumbuh 2,25 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Pada kesempatan yang sama, BPS melaporkan angka kemiskinan di Jawa Barat terus menunjukkan penurunan.
Persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebesar 6,54 persen, turun 0,24 persen poin dibanding September 2025 dan turun 0,49 persen poin dibanding Maret 2025.
Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat sebanyak 3,44 juta jiwa atau berkurang 114,23 ribu orang dibanding September 2025. Jika dibandingkan Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang hingga 218,27 ribu orang.
“Penurunan persentase penduduk miskin didorong oleh berbagai faktor, salah satunya kesempatan kerja yang semakin meluas. Serapan tenaga kerja bertambah 205,31 ribu orang dari Februari 2026 ke Mei 2026 sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga dan daya beli yang tetap stabil,” kata Margaretha.
BPS juga mencatat garis kemiskinan di Jawa Barat pada Maret 2026 sebesar Rp609.790 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, komponen kebutuhan makanan mencapai Rp454.174 atau 74,48 persen, sedangkan kebutuhan nonmakanan sebesar Rp155.616 atau 25,52 persen.
Menurut BPS, tren kemiskinan di Jawa Barat secara umum terus menurun dalam periode Maret 2021 hingga Maret 2026, kecuali pada Maret 2022 ketika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 turut mendorong penurunan angka kemiskinan yang terus berlangsung hingga 2026.
- Penulis: Tim Redaksi
