Lawan Ketergantungan Gadget, SDN 01 Pondok Cabe Ilir Bangun Budaya Literasi Lewat Gerlisa
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026
- print Cetak

JABARIN, TANGERANG SELATAN, – Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan gadget, SDN 01 Pondok Cabe Ilir, Pamulang, Kota Tangerang Selatan, menghadirkan Gerlisa (Gerakan Literasi Siswa) sebagai program unggulan untuk menumbuhkan kembali minat membaca sekaligus memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Program tersebut diluncurkan pada 23 Juli 2026 bertepatan dengan Hari Anak Nasional. Gerlisa kemudian dijalankan secara terstruktur setiap Kamis pagi dengan pembagian berdasarkan fase pembelajaran, yakni Fase A untuk kelas 1–2, Fase B kelas 3–4, dan Fase C kelas 5–6.
Tak hanya melalui kegiatan khusus Gerlisa, budaya membaca juga dibangun melalui kebiasaan harian di dalam kelas. Para siswa diarahkan untuk membaca terlebih dahulu sebelum mengikuti materi pembelajaran seperti Bahasa Indonesia, IPA, maupun Matematika.
Wakil Kepala Sekolah SDN 01 Pondok Cabe Ilir, Ambarwati, mengatakan Gerlisa lahir dari hasil rapat mutu sekolah dengan tujuan mendorong siswa kembali memiliki ketertarikan terhadap aktivitas membaca dan berhitung.
“Harapan kami, dengan program yang terarah ini, anak-anak lebih mencintai membaca dan berhitung lagi. Sekarang banyak yang sudah agak malas baca karena lebih fokus ke gadget. Kami ingin menumbuhkan semangat mereka kembali,” ujar Ambarwati.

Kepala SDN 01 Pondok Cabe Ilir, Warjoko, mengatakan program Gerlisa menjadi salah satu upaya sekolah dalam membangun budaya belajar yang lebih kuat di lingkungan sekolah. Menurutnya, kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi penting yang harus dimiliki siswa untuk mendukung keberhasilan pembelajaran di berbagai mata pelajaran.
“Literasi dan numerasi adalah kemampuan dasar yang harus terus diperkuat. Melalui Gerlisa, kami ingin menciptakan kebiasaan membaca dan belajar yang menyenangkan sehingga tumbuh menjadi budaya positif di sekolah,” kata Warjoko.
Koordinator Program Gerlisa, Lia Apriliani, menjelaskan pelaksanaan program dilengkapi dengan mekanisme pemantauan perkembangan minat baca siswa. Wali kelas memiliki format laporan khusus untuk melihat perkembangan masing-masing anak.
Sekolah juga menyediakan pojok baca di sejumlah kelas. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan siswa yang telah menyelesaikan tugas untuk membaca buku cerita maupun buku pelajaran sambil menunggu teman-temannya menyelesaikan tugas.
Untuk memperluas pengalaman membaca, SDN 01 Pondok Cabe Ilir juga menghadirkan layanan perpustakaan keliling. Antusiasme siswa dinilai cukup tinggi dalam mengikuti kegiatan tersebut.
Metode kegiatan disesuaikan dengan jenjang siswa. Pada kelas rendah, kegiatan dilakukan melalui pertanyaan sederhana berdasarkan bacaan. Sementara siswa kelas tinggi diarahkan membaca, merangkum, kemudian menyampaikan kembali isi bacaan yang telah dipahami.
Selain itu, kunjungan ke perpustakaan sekolah telah dijadwalkan dan diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran.
Menurut Ambarwati, pengelolaan program sekolah saat ini semakin terstruktur. Setiap program tidak hanya dijalankan sebagai kegiatan, tetapi memiliki tujuan, rencana, pembagian tanggung jawab, progres, hingga evaluasi secara berkala.
“Dulu kami mengerjakan program dengan semangat, tapi belum terwadahi dengan baik. Sekarang ada proposal, ada tujuan jelas, ada progres, dan ada evaluasi setiap bulan. Semua guru punya tanggung jawab masing-masing,” jelasnya.
Meski terus dikembangkan, pelaksanaan Gerlisa masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan media dan koleksi buku di kelas.
Untuk memenuhi kebutuhan kegiatan, para guru bahkan tak jarang menggunakan sumber daya pribadi. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat para pendidik untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa lebih gemar membaca.
“Modalnya modal ikhlas. Kami ingin pahala dan ingin anak-anak lebih meningkat semangat belajarnya,” kata Lia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Deden Deni, mengapresiasi inovasi yang dilakukan SDN 01 Pondok Cabe Ilir dalam memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah.
Menurutnya, upaya membangun kebiasaan membaca sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membentuk karakter peserta didik di era digital.
“Kami mendorong setiap satuan pendidikan untuk menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan literasi dan numerasi siswa. Program seperti Gerlisa menjadi contoh bagaimana sekolah dapat membangun budaya belajar yang positif dan adaptif terhadap tantangan zaman,” ujar Deden.
Ia menambahkan, penguatan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan orang tua dan lingkungan agar kebiasaan membaca dapat terus tumbuh di kehidupan sehari-hari siswa.
Dengan dukungan komite sekolah, orang tua, serta kolaborasi seluruh guru, SDN 01 Pondok Cabe Ilir berharap Gerlisa dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Program tersebut sekaligus menjadi upaya sekolah membangun kebiasaan membaca dan berhitung secara konsisten, sehingga peningkatan literasi dan numerasi tidak hanya berlangsung dalam kegiatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari keseharian siswa di sekolah.
- Penulis: Tim Redaksi
