Usai Disidak, Owner Pabrik Es Kristal Buaran Temui Warga dan Sepakati Sejumlah Solusi
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Jabarin, Tangerang Selatan – Pemilik pabrik pengolahan es kristal di Kampung Jati, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Herman, bertemu dengan warga terdampak keluhan kekeringan air, Kamis (23/7).
Pertemuan tersebut difasilitasi Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan, Julham Firdaus, sebagai tindak lanjut dari sidak yang sebelumnya dilakukan ke pabrik tersebut usai warga mengeluhkan sumur mereka yang mengering.
Dalam pertemuan itu, sejumlah persoalan dibahas, mulai dari penggunaan air untuk kebutuhan produksi, kondisi sumur warga, hingga langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak kekeringan selama musim kemarau.
Salah satu warga, Yuni, menyampaikan permintaan agar pihak pabrik membantu menyediakan sumur bor baru untuk memenuhi kebutuhan air warga yang terdampak.
Menanggapi hal tersebut, Julham menyampaikan sejumlah rekomendasi. Di antaranya, pengaturan penggunaan air agar tidak mengganggu kebutuhan warga, memprioritaskan penggunaan air kiriman untuk kegiatan produksi, serta membantu penyediaan air bagi warga selama kondisi kemarau berlangsung.
“Ini musim kemarau, saya minta difasilitasi air bersih untuk lingkungan yang terdampak. Sampai nanti kita coba sepakati,” ujar Julham dalam pertemuan tersebut.
Anggota Fraksi Demokrat itu juga meminta agar penggunaan air pabrik diatur berdasarkan kebutuhan warga. Ia menyarankan penggunaan air dari pasokan luar pada waktu tertentu agar ketersediaan air bagi masyarakat tetap terjaga.
Selain persoalan air, Julham turut menyoroti aspek legalitas usaha dan perlindungan pekerja. Ia menyebut pihaknya menemukan adanya dokumen perizinan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang tidak sesuai fungsi dan pabrik yang belum mengantongi SIPA (Surat Izin Pengusahaan Air Tanah).
Menurutnya, karena terdapat dokumen perizinan, langkah yang dilakukan bukan langsung penutupan usaha, melainkan memastikan adanya penyesuaian dan evaluasi apabila ditemukan hal yang tidak sesuai.
“Kalau izinnya ada, kita tidak boleh berdebat. Tinggal kita lihat ada hal yang perlu disesuaikan, terutama terkait alih fungsi dan pelaksanaannya,” kata Julham.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta pihak pabrik memperhatikan perlindungan pekerja, termasuk kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan serta peningkatan kesejahteraan karyawan.
Owner pabrik es kristal, Herman, menerima sejumlah rekomendasi yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Sebelumnya, warga Kampung Jati, Buaran, mengeluhkan sumur mereka yang mengering dan menduga kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas penggunaan air tanah oleh pabrik es kristal yang berada di sekitar permukiman.
Warga menyebut kondisi kekeringan mulai rutin terjadi sejak pabrik beroperasi sekitar empat tahun terakhir.
Sementara itu, pihak pabrik sebelumnya membantah menggunakan sistem sumur satelit dan menyatakan sumber air produksi berasal dari air kiriman, sedangkan penggunaan sumur bor hanya menjadi bagian dari kebutuhan produksi.
Hingga kini, DPRD Tangsel meminta agar evaluasi dan komunikasi antara pihak pabrik dengan warga terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi.
- Penulis: Tim Redaksi
